Artikel Terbaru

Kebiasaan Unik Masyarakat Indonesia Sebelum Berangkat Haji

Indonesia tentu mempunyai banyak rutinitas antik di tiap wilayahnya. Antara lainnya yakni rutinitas seru berangkat ke Tanah Suci. Pengen tahu seperti apakah rutinitas ziarah yang antik di Indonesia? Berikut yakni pengkajian buat Anda.

Tradisi Tepung Tawar

Tepung tawar adalah satu diantara rutinitas yang direalisasikan saat Anda mau melepaskan keluarga atau famili ke Tanah Suci buat berziarah. Rutinitas ini dipandang sebagai pengenal tiap calon haji. Apabila disaksikan lebih jauh, rutinitas ini adalah satu diantara acara keramat dalam upacara rutinitas melayu. Nama tepung terigu ini berawal dari satu diantara berbahan adalah tepung beras yang di campur air.

Keseluruhannya tradisi tepung tawar  ini adalah simbol rasa sukur atas kemajuan, rasa suka, kemauan, dan insiden atau niat yang bakal dilaksanakan pada manusia buat melumpuhkan benda yang tidak bergerak. Proses pengerjaan Tawar Tuk terbagi dalam menepuk-nepuk bedak di punggung tangan selanjutnya memercikkan air mawar ke orang yang bakal menepuk tawar itu.

Membuat Klansah Di Lombok

Rutinitas membuat klansah di lombok adalah rutinitas membikin tenda di muka rumah buat calon jamaat haji yang bakal pergi ke Lombok. Umumnya pengerjaan marga ini diawali seusai usainya Idul Fitri atau sebelumnya diawalinya haji. Saat membikin klansah, penduduk di tempat melaksanakannya sama-sama. Bahan buat marga ini cuman memerlukan dua bahan basic, adalah daun kelapa menjadi atap dan bambu menjadi tiang.

Tradisi Jonepoto

Dalam menetapi beribadah haji, penduduk menggunakan tradisi Jeneponto mempunyai sejumlah rutinitas, seperti memutuskan hari baik di tiap tingkatan acara haji, kerjakan ritus spesial buat personal dan keluarga, dan menyalurkan amplop pada acara safari perjamuan. Dan pembacaan barzanja dilaksanakan beberapa waktu sebelumnya pemberangkatan dan dilaksanakan tiap Jumat malam seusai pemberangkatan.

Tradisi Peusjiek di Aceh

Di Aceh sendiri, waktu calon peziarah dilepaskan ke Tanah Suci, tradisi peusijuek di aceh akan jadi yang pertama melaksanakannya. Sampai sekarang proses peusijuek masih dipertahankan dalam rutinitas istiadat acesian. Umumnya proses peusijuek dilaksanakan dengan memanfaatkan daun cocor bebek atau disebutkan seunjuek dengan sejumlah daun yang lain telah dikombinasikan awal kalinya. Dari hari ke hari, senijuek itu di rendam ke tempat plastik selanjutnya disemprot ke seluruhnya jemaat.

Calon haji bakal dicari wanita, dan jemaat pria bakal disongsong pria. Maksud dari rutinitas antik berziarah ke Indonesia ini yakni mengucapkan sukur terhadap Allah SWT. Peusijuek sendiri mendinginkan atau menentramkan hati. Saat acara peusijuek, seorang yang dipercayai membaca basmallah dan doa-doa seseorang, yang pada akhirnya makan ketan.

Gentongan Tradisi Dari Cirebon

Hingga saat ini trradisi Gentongan dari cirebon ketika berangkat Haji masih digenggam oleh kebanyakan penduduk di Kabupaten Cirebon waktu berada yang mau berziarah. Seperti namanya, rutinitas ini memanfaatkan kendi atau tong gerabah. Tong berisi air minum, ditutup dengan tutup hidangan berwujud kerucut dan ditempatkan di muka rumah tempat penghuninya berziarah.

Dari sisi tong ini ada sendok kayu dengan batok kelapa dan dua gelas minum. Siapa-siapa saja dapat minum air keran. Juga waktu air di tong habis, satu diantara bagian keluarga lekas mengisinya kembali. Laras akan selalu ada di luar rumah waktu 24 jam mulai sejak keberangkatan masyarakat sampai menetapi beribadah haji. Tong itu bakal dibawa kembali seusai masyarakat kembali lagi ke tanah air. Nah, saat jemaat pulang dari Tanah Suci, umumnya ada rutinitas yang berlainan. Rutinitas yakni keluarkan tong. Gentongan sendiri mempunyai pengertian filosofis buat penduduk. Dia menuturkan kalau calon peziarah yang bakal siapkan air ini bakal terlindungi dari matahari waktu ada di Tanah Suci.

Spread the love